News Tobadak– Kasus kekerasan terhadap anak kembali mencuat di Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat. Seorang siswa sekolah dasar berinisial D (12) menjadi korban penganiayaan oleh seorang remaja pria berinisial MFR (19). Ironisnya, insiden ini terjadi hanya karena pelaku merasa diejek oleh sang bocah.
Kronologi Kejadian
Peristiwa memilukan itu berawal ketika D tengah bermain bersama teman-temannya. Menurut keterangan sang ibu, Arnikawati, anaknya saat itu hanya memanggil temannya sambil berkata “liatka joget”. Namun, ucapan tersebut justru disalahartikan oleh MFR yang merasa dirinya sedang diejek.
Tak lama kemudian, pelaku mendatangi D. Tanpa banyak bicara, MFR langsung menghadang bocah malang itu dan melakukan kekerasan.
“Anakku jadi korban pemukulan preman kampung. Dia dicekik, lalu dipukul di bagian wajah sampai hidungnya berdarah. Matanya juga memar dan sampai susah melihat,” ujar Arnikawati dengan nada geram.
Kondisi Korban
Setelah menerima perlakuan kasar itu, D sempat diantar pulang oleh temannya. Melihat kondisi anaknya yang penuh luka, keluarga langsung membawa D ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan perawatan sekaligus menjalani visum.

Baca Juga: Tanggul Beton Marunda Sah Secara Hukum Nelayan Tetap Resah
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan adanya luka pada bagian wajah, pendarahan di hidung, serta memar di sekitar mata. Kondisi itu membuat D kesulitan untuk melihat dengan jelas.
Tidak tinggal diam, keluarga korban langsung melaporkan kasus penganiayaan ini ke pihak kepolisian.
“Saya sudah resmi melaporkan kejadian ini ke Polres Mamuju Tengah. Saya tidak terima anak saya diperlakukan seperti itu,” tegas Arnikawati.
Menanggapi laporan tersebut, Kasi Humas Polres Mamuju Tengah, Iptu Saldi M, membenarkan bahwa pihaknya tengah menangani perkara ini. Kasus kini telah ditangani oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).
“Laporan sudah masuk dan sedang ditangani penyidik PPA. Kami akan memproses sesuai hukum yang berlaku,” ujar Saldi.
Kekerasan Anak, Masalah Serius di Daerah
Kasus ini menambah daftar panjang persoalan kekerasan terhadap anak yang masih marak terjadi di Indonesia, khususnya di daerah. Faktor emosi yang tidak terkontrol, minimnya kesadaran hukum, hingga lemahnya pengawasan lingkungan kerap menjadi pemicu insiden serupa.
Pakar perlindungan anak menegaskan, kasus penganiayaan terhadap anak tidak bisa dianggap remeh. Selain menyebabkan trauma fisik, korban juga berisiko mengalami luka psikologis yang mendalam.










