, ,

Mahasiswa UGM Sulap Limbah Kulit Kakao Jadi Kerupuk Premium di Mamuju Tengah

by -602 Views

Limbah Kulit Kakao Naik Kelas Jadi Camilan Premium Berkat Sentuhan Mahasiswa KKN-PPM UGM 2025

News Tobadak– Siapa sangka tumpukan limbah kulit kakao yang selama ini dianggap tidak berguna, bisa berubah menjadi camilan premium yang gurih, sehat, dan bernilai jual tinggi? Inovasi inilah yang lahir dari tangan-tangan kreatif mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui program KKN-PPM UGM 2025 di Desa Palongaan, Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat.

Program bertajuk PROCIKKA atau Program Camilan Inovatif Kerupuk Kulit Kakao menjadi magnet baru yang menarik perhatian masyarakat, khususnya para petani kakao yang selama ini hanya berfokus pada pengolahan biji.

Dari Limbah Jadi Potensi Ekonomi

Di balik ide brilian ini adalah Erwinda Dwi Chofifah, mahasiswi Fakultas Biologi UGM, bersama tim lintas disiplin yang beranggotakan mahasiswa dari berbagai fakultas. Mereka melihat peluang besar dari tumpukan kulit kakao yang sering dibiarkan membusuk begitu saja di kebun atau halaman rumah warga.

“Selama ini, fokus masyarakat hanya pada biji kakao yang dijual ke tengkulak atau pengusaha. Padahal, kulit kakao jumlahnya lebih melimpah, dan ternyata punya kandungan gizi luar biasa,” jelas Erwinda.

Penelitian menunjukkan bahwa kulit kakao kaya akan polifenol, flavonoid, dan tannin—senyawa antioksidan alami yang mampu menangkal radikal bebas, menjaga kesehatan mulut, bahkan berpotensi mencegah penyakit degeneratif. Alih-alih menjadi limbah, bahan ini justru bisa diolah menjadi produk pangan fungsional bernilai tinggi.

Antusiasme Masyarakat Desa

Kegiatan KKN yang berpusat di Dusun Polongaan, Desa Palongaan, disambut hangat oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat. Para ibu rumah tangga yang sehari-hari mendampingi suami di kebun kakao kini mendapat pengalaman baru: belajar mengolah kulit kakao menjadi kerupuk renyah dengan cita rasa unik.

Proses pembuatannya pun sederhana namun penuh keterampilan. Kulit kakao yang sudah dicuci bersih dihaluskan menjadi pasta, lalu dicampur dengan adonan tepung dan bumbu. Setelah itu, adonan dipipihkan, dibentuk sesuai selera, kemudian dijemur di bawah sinar matahari hingga kering. Tahap terakhir adalah menggorengnya hingga mengembang, menghasilkan kerupuk bertekstur renyah dengan aroma khas kakao yang menggoda.

“Inovasi seperti ini membuka wawasan kami. Selama ini kulit kakao hanya jadi sampah, sekarang bisa jadi camilan yang enak sekaligus peluang usaha,” ungkap Bu Narsi, Ketua KWT Dusun Polongaan.

Limbah Kulit Kakao Naik Kelas Jadi Camilan Premium Berkat Sentuhan Mahasiswa KKN-PPM UGM 2025 – Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat

Baca Juga: KKN-PPM UGM Galakkan Deteksi Dini Penyakit Tidak Menular di Desa Mahahe

Sentuhan Bisnis dan Pemasaran

Bagi tim KKN UGM, keberhasilan PROCIKKA tidak berhenti pada tahap produksi. Mereka juga membekali warga dengan keterampilan branding, pengemasan, dan strategi pemasaran.

Produk kerupuk kulit kakao tidak lagi dikemas seadanya, melainkan dengan desain yang higienis, menarik, dan layak dipasarkan sebagai oleh-oleh khas Palongaan. Targetnya, produk ini bisa bersaing di pasaran, baik di tingkat lokal maupun regional.

“Kami ingin masyarakat tidak hanya bisa membuat produk, tapi juga memahami bagaimana menjualnya dengan nilai tambah. Dengan begitu, kerupuk kulit kakao bisa naik kelas menjadi camilan premium,” tambah Erwinda.

Kakao, Komoditas Unggulan yang Hidup Kembali

Desa Palongaan sendiri dikenal sebagai salah satu sentra kakao di Mamuju Tengah. Pohon kakao tumbuh subur di lahan-lahan milik warga, dengan biji yang kualitasnya cukup bersaing.

Lewat PROCIKKA, paradigma ini perlahan berubah. Masyarakat kini menyadari bahwa setiap bagian dari kakao bisa bernilai jika diolah dengan tepat.

Lebih dari sekadar inovasi pangan, PROCIKKA menjadi simbol pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Sinergi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan warga membuktikan bahwa pembangunan desa berkelanjutan bisa diwujudkan melalui langkah-langkah kecil namun berdampak besar.

“Kalau masyarakat bisa mengolah apa yang ada di sekitar, maka ketahanan ekonomi desa akan lebih kuat. PROCIKKA ini buktinya: dari limbah, jadi berkah,” tegas Erwinda.

Ke depan, PROCIKKA diharapkan menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Mamuju Tengah bahkan seluruh Indonesia. Dengan dukungan pemerintah daerah dan semangat kewirausahaan masyarakat, kerupuk kulit kakao bukan hanya akan menjadi ikon Desa Palongaan, tetapi juga contoh nyata transformasi limbah pertanian menjadi produk unggulan.

telkomsel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.