, ,

Sirene Jadi Simbol Ketidakadilan Warga Desak Aturan Strobo Diperketat

by -504 Views

News Tobadak– Jakarta bukan hanya kota yang akrab dengan kemacetan, tetapi juga dengan suara bising klakson, strobo, dan sirene kendaraan pengawalan. Suara tot tot wuk wuk yang memecah jalanan itu kini tak lagi dipandang sebagai simbol kewibawaan, melainkan tanda ketidakadilan yang makin dirasakan warga.

Di tengah jalan yang sudah penuh sesak, suara sirene seolah menegaskan adanya “kelas sosial” di jalan raya. Mereka yang memiliki privilege bisa melenggang mulus, sementara masyarakat biasa harus menepi, menunggu, bahkan sering kali terjebak lebih lama di pusaran macet.

Suara Warga: Dari Resah Jadi Marah

Naufal (31), seorang pengusaha asal Jakarta Barat, mengaku kerap kesal setiap kali sirene meraung di jalan.

“Kalau lagi panas-panas, macet, terus bunyi-bunyian itu kedengerannya puyeng banget, bikin emosi aja. Kita sama-sama bayar pajak, masa iya harus minggir buat pejabat yang cuma mau rapat atau urusan biasa?” katanya.

Nada serupa datang dari Dwi (40), karyawan swasta yang hampir setiap hari menggunakan transportasi umum. Menurutnya, sirene seharusnya dibatasi untuk benar-benar darurat.

“Kalau ambulans atau pemadam kebakaran itu beda cerita, kita paham itu darurat. Tapi kalau cuma rapat atau pulang kantor, ya jangan pakai sirenelah. Kita juga pekerja, sama-sama buru-buru. Masa haknya beda?”

Tak hanya itu, penyalahgunaan strobo dan sirene bahkan terjadi di luar lingkaran pejabat. Tami (39), seorang warga lainnya, menyoroti fenomena penggunaan sirene untuk keperluan pribadi.

“Kadang ada juga yang pakai buat acara nikahan, bahkan mobil pribadi pakai sirene. Itu kan jelas melanggar aturan. Harusnya polisi langsung tindak, jangan dibiarkan,” tegasnya.

Menurut Tami, fasilitas negara yang digunakan pejabat semestinya dipakai dengan bijak. “Kita kerja jungkir balik untuk membayar pajak dan gaji mereka. Jadi jangan semena-mena pakai fasilitas negara hanya buat meeting di Senayan atau main padel,” tambahnya.

Saat Sirene Jadi Simbol Ketidakadilan di Jakarta, Lahirlah Gerakan Stop Tot Tot Wuk Wuk

Baca Juga: Real Madrid Masih Sempurna Tundukkan Espanyol 2-0 di Bernabéu

Lahirnya Gerakan “Stop Tot Tot Wuk Wuk”

Fenomena ini akhirnya melahirkan sebuah gerakan spontan masyarakat di media sosial dengan tagar #StopTotTotWukWuk. Istilah itu merujuk pada bunyi sirene kendaraan, yang kini diparodikan menjadi bahan satire.

Poster digital, meme, hingga stiker bergambar sindiran mulai ramai beredar. Salah satu yang viral bertuliskan: “Pajak kami ada di kendaraanmu. Stop berisik di jalan Tot Tot Wuk Wuk!”

Gerakan ini bukan sekadar guyonan dunia maya, tapi sebuah bentuk perlawanan atas ketidakadilan di jalan. “Kalau semua orang punya privilege, lalu masyarakat kecil gimana? Kita ini mayoritas, tapi selalu disuruh ngalah,” kata Tami.

Nada protes yang tadinya hanya keluhan kecil kini berkembang jadi suara kolektif. “Masyarakat sudah resah, suaranya makin keras. Jangan sampai dibiarkan, nanti malah muncul aksi-aksi di jalan,” tambahnya.

telkomsel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.